468x60

  • Blockquote

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Paedagogi Praktis pada Zaman Sekarang

Minggu, 25 Maret 2012
Paedagogi praktis merupakan pengaplikasikan paedagogi ilmiah. Paedagogi praktis disebut juga paedagogi  vernakular. Menurut Carpenter (2001) ada dua fungsi penelitian paedagogis. Pertama, untuk menghasilkan pengetahuan baru tentang pengajaran dan pembelajaran. Kedua, untuk memungkinkan guru atau pendidik memahami, menjelaskan, membela, membenarkan, dan bila perlu memodifikasi paedagogi. Tujuan pertama melahirkan paedagogi teoritis dan tujuan kedua melahirkan paedagogi praktis.


Pada tataran pembelajaran di kelas, tidak ada perbedaan yang jelas antara paedagogi praktis dan paedagogi ilmiah. Meski demikian, praktik paedagogi yang baik harus didasari oleh teori paedagogi yang sudah teruji. Jembatan antara paedagogi ilmiah dan paedagogi praktis juga meningkat melalui penggunaan penelitian ke bidang-bidang seperti metakognisi dan pembelajaran bertahun-tahun.

Paedagogi Praktis Abad Ke-21

Banyak  orang tertarik untuk mendiskusikan paedagogi, bahkan diberi nama Paedagogi Abad ke-21 yang dikenal juga sebagai paedagogi progresif. Paedagogi tidak hanya berbicara mengenai seni dan ilmu mengajar, melainkan juga mendorong banyak orang untuk melakukan redesain dan pemahaman ulang atas bagaimana menggunakannya untuk merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kemajuan zaman.

Sebagai ilmu atau teori dan seni atau praktik mengajar, paedagogi termasuk dalam kategori “pengetahuan paedagogis formal” dan “pengetahuan paedagogis vernacular”. Paedagogis formal/ilmiah merupakan upaya mengembangkan prinsip-prinsip dan teori-teori paedagogi yang efektif melalui penelitian yang sistematis, lebih abstrak dan lebih umum dari paedagogi vernacular/praktis. Paedagogi formal/praktis didukung oleh pengalaman dasar yang kuat, istimewa, dan dibangun atas fondasi kajian empirik selama proses mengajar dan belajar.

Menurut Carpenter (2001) ada dua fungsi penelitian paedagogis. Pertama, untuk menghasilkan pengetahuan baru tentang pengajaran dan pembelajaran. Kedua, untuk memungkinkan guru atau pendidik memahami, menjelaskan, membela, membenarkan, dan bila perlu memodifikasi paedagogi. Tujuan pertama melahirkan paedagogi teoritis dan tujuan kedua melahirkan paedagogi praktis. Pada tataran pembelajaran di kelas tidak ada perbedaan yang jelas antara paedagogi praktis dan paedagogi ilmiah.

Studi sistematik kepaedagogian erat kaitannya dengan penerapan paedagogi.  Menurut Hallam dan Ireson (1999), yang perlu diprioritaskan menjadi perhatian adalah kebutuhan mendesak untuk bergerak kearah ini yaitu studi sistematis  dan penerapan paedagogi. Ini berarti,  bahwa penelitian paedagogis harus menjadi aturan emas bagi pengambil keputusan. Tindakan  yang akan menurunkan semangat guru-guru harus dilihat dengan hati-hati. Karena itu penelitian paedagogis harus mendefiniskan, menjelaskan, memprediksi, meramalkan, dan menemukan arah ke masa depan bagi perbaikan sistem pendidikan secara keseluruhan.

Tiga Tantangan
Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kerjasama  Ekonomi dan Pembangunan (OECD) terungkap secara eksplisit sejauh mana paedagogi sebagai ilmu pengetauan akan mendukung kebijakan dan praktik pendidikan. Atas dasar laporan itu ada tiga aspek saling terkait untuk memahami dan akhirnya menyelesaikan masalah ini.
1.       1. Codifying and communicating teacher’s practical paedagogical knowledge
Menurut Shulman (1987) masalah utama dalam mengajar adalah hilangnya pemahaman terhadap karya terbaik dari praktisi kontemporer bagi masa depan peserta didik. Dokumentasi standar professional merupakan langkah positif.
2.       2. Establishing systems for shared scientific paedagogical knowledge management
Membangun sistem paedagogis untuk berbagi pengetahuan manajemen ilmiah dan menyediakan waktu yang cukup bagi guru untuk mengembangkan dan menerapkan pengetahuan ini. Krisis yang serius masih muncul di bidang pendidikan.
3.       3. Developing a robust theoretical framework for the new science of paedagogy
Mengembangkan kerangka teori yang kuat terhadap ilmu baru paedagogi. Perdebatan mengenai teori paedagogi terus berlanjut, karena memang karya teoritis yang diperlukan untuk berubah tidak mudah mewujudkannya menjadi prestasi yang solid.
Pengembangan teoritis dan empiris bidang paedagogi memberikan kendali bebas, namun wacana dan kebijakan seringkali memaksakan. Tentu saja harus diyakini bahwa siapa pun juga tidak mungkin melakukan pemisahan paksa antara pengetahuan teoritis dan praktis serta teori kebijakan public dalam pendidikan.

Meski sudah berusia sangat tua, paedagogi terus mengundang perdebatan. Menteri Pendidikan Amerika Serikat telah mempertanyakan pentingnya paedagogi pembelajaran bagi guru. Dia mengemukakan, banyak sekolah pendidikan bisnis terus seperti biasa, dengan fokus berat pada paedagogi dan bagaimana menjadi seorang guru. Implikasi dari pernyataan ini tentu saja mengerikan, karena kurangnya perhatian pada paedagogi. Ada banyak orang yang tidak menerima definisi paedagogi itu merupakan seni dan ilmu menjadi seorang guru.
Konten paedagogi mengacu pada keterampilan paedagogis (pengajaran) yang guru gunakan untuk menanamkan pengetahuan khusus atau isi kurikulum kepada siswa. Kegagalan banyak negara mengenai pengembangan professional sebagian disebabkan karena mengabaikan paedagogi.Pengabaian ini menyebabkan banyak sekolah yang menderita penyakit screensever dan hanya menemukan sedikit keuntungan atas investasi teknologi baru untuk keperluan pengajaran dan pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA:
Danim, Sudarwan (2010). Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Paedagogi Teoritis dan Prinsip-prinsip Paedagogis

Minggu, 18 Maret 2012
Paedagogi tidak hanya berkutat pada ilmu dan seni mengajar, melainkan pada hubungannya dengan pembentukan generasi baru, yaitu pengaruh pendidikan sebagai sistem yang bermuara pada pengembangan individu atau peserta didik. Danilov (1978) mendefinisikan istilah padagogis sebagai proses interaksi terus menerus dan saling berasimilasi antara pengetahuan ilmiah dan pengembangan siswa. Dari perspektif lain, Alberto Gracia mengkonseptualisasikan paedagogis sebagai tindakan guru dan siswa dalam konteks organisasi sekolah. Ia memperhitungkan hubungan antara semua proses dan pendidikan sebagai target pencapaian sekolah, namun proses paedagogis tidak melampaui batas-batas institusi pendidikan.

Apa yang dimaksud dengan prinsip-prinsip paedagogis? Ini adalah tesis dasar teori psikopaedagogis, pada arah proses paedagogis yang menjadi standard dan prosedur tindakan untuk menentukan dasar paedagogis yang paling penting dalam proses pendidikan kepribadian.

Menurut Addine (2001), diantara prinsip-prinsip paedagogis itu adalah kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis. Setiap konten yang pembelajar ambil di sekolah harus berguna dalam kehidupan sehari-hari, kini dan kelak. Prinsip lain yang berorientasi pada proses ini adalah salah satu yang mengkombinasikan karakter kolektif dan individual pendidikan, serta penghormatan terhadap kepribadian siswa. Prinsip berikutnya merujuk pada kesatuan pengajaran, pendidikan, dan perkembangan proses, karena didasarkan pada kesatuan dialektis antara pendidikan dan pengajaran yang harus terkait dengan kegiatan pembangunan pada umumnya. Proses paedagogis juga menggamit bahwa domain kognitif dan afektif tidak bisa berada dalam suasana yang kering. Prinsip terakhir adalah bahwa masing-masing subsist aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain.

Proses paedagogis berbasis pada model program jangka panjang. Di Kuba, metamorfosis perkembangan lebih lanjut dari paedagogi melahirkan apa yang disebut dengan Revolusi Pendidikan Ketiga.

Sejarah perkembangan padagogi sangat mungkin berbeda di masing-masing negara, meski esensi paedagogi itu sama di semua tempat dan situasi. Menurut N.Chacon dalam rangka pengembangan kemampuan dan keterampilan kepaedagogian juga perlu upaya mengembangkan etika profesi gurum dengan mengemas program yang menggamit beberapa dimensi:
a.Penguasaan susbtansi pengajaran dan pembelajaran
b.Penguasaan dimensi paedagogis
c.Penguasaan program pendidikan berbasis proses dan hasil dalam keseluruhan perilaku dan pekerjaan kependidikan
d.Penguasaan metode proses pengembangan kegiatan belajar-mengajar berdasarkan lintas-kurikuler secara aksiologis dengan menggunakan perangkat teknologi

Menurut Vygotsky, dimensi-dimensi yang tergamit dalam rangka pembentukan guru professional disajikan berikut ini:
1.Pembentukan guru sebagai pribadi yang utuh
2.Pembentukan karakter sistematik yang diperlukan untuk memberdayakan siswa
3.Pembentukan karakter yang terpribadi dengan dua jalur referensi, yaitu individualisasi dan integrasi dengan mempertimbangkan berbagai sisi pengembangan, termasuk yang terkait dengan tujuan edukasi
4.Pembentukan karakter preventif, tidak hanya kaitannya dalam pemecahan masalah



Semua tesis dinyatakan oleh Vygotsky juga mendukung proses belajar mengajar sebagaimana dikehendaki dalam proses paedagogis. Proses belajar mengajar yang terpadu berfokus dalam pembentukan kemampuan, keterampilan, dan kepribadian siswa secara seutuhnya.




DAFTAR PUSTAKA:
Danim, Sudarwan (2010). Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Hubungan Pedagogi dengan Paradigma Belajar

Minggu, 11 Maret 2012
Istilah pedagogi yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefiniskan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”. Mengajar bermakna tindakan seseorang atau tim dalam memberi petunjuk atau menyampaikan informasi, pengalaman, pengetahuan, dan sejenisnya kepada subjek didik tertentu agar mereka mengetahui dan memahaminya sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Pengajaran adalah semua proses tindakan yang terjadi dalam kerangka kegiatan mengajar. Elemen-elemen umum yang terlibat dalam semua aktivitas mengajar meliputi bahan ajar, interaksi guru-siswa dengan perekat kemampuan pengelolaan kelas, dan evaluasi dengan hasil belajar sebagai produknya. Seorang guru yang sangat baik dipandang sebagai salah satu energi yang memberikan kontribusi positif yang luar biasa terhadap terciptanya suasana belajar siswa, termasuk membangkitkan minat mereka. Guru dengan kemampuan mengajar yang unggul memiliki karakteristik sebagai berikut:


 1     Keahlian pokok, diantaranya:
 v     Memiliki pengetahuan tentang materi pelajaran secara menyeluruh 
 v     Menguasai materi lebih jauh dari sekadar yang tertuang dalam buku teks 
 v     Meneliti dan mengembangkan pikiran-pikiran penting dan asli mengenai materi pelajaran khusus 


 2     Ahli pedagogis, diantaranya: 
 v     Mengevaluasi dan menilai siswa secara adil dan cepat
 v     Memberikan umpan balik secara teratur, konstruktif, dan obyektif untuk siswa
 v     Mempromosikan penemuan siswa  


3        Komunikator yang unggul, diantaranya: 
 v     Menunjukkan kemampuan berkomunikasi lisan dan tulisan yang efektif
 v     Membantu siswa belajar menggunakan keterampilan berkomunikasi yang efektif 
 v     Menggunakan bahasa sebagai jembatan budaya 


 4        Mentor yang berpusat pada siswa, diantaranya: 
 v     Membuat siswa dengan mudah memahami kepribadiannya
 v     Menjadikan dan membuat kegiatan belajar siswa sebagai prioritas tertinggi 
 v     Menyediakan waktu secara ikhlas untuk mempengaruhi motivasi belajar siswa 


 5        Asesor yang sistematis dan berkelanjutan, diantaranya: 
 v     Mengakui keterbatasan dan kekurangan sendiri 
 v     Mendukung upaya pengujian untuk mengetahui keberhasilan kegiatan pembelajaran
 v     Mengembangkan dan menggunakan hasil penilaian untuk terus meningkatkan       pengalaman belajar siswa sesuai dengan tujuan program  


Guru tidak hanya harus mampu melihat apa yang terjadi di kelas melainkan juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan tentang apa yang dilihat. Guru yang memiliki perspektif adalah  mereka yang berpengalaman dalam pengaturan sekolah dan memiliki struktur konseptual untuk memahami peristiwa di kelas.  


Istilah paradigma dikemukakan secara akademik dan operasional oleh Thomas Kihn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution. Kuhn menggunakan istilah paradigma untuk menggambarkan seseorang yang mengakui keyakinan dan teori yang mendasari kegiatan “ilmu-ilmu normal”. Dengan demikian paradigma adalah cara yang diterima untuk melihat dunia yang tumbuh dari pertanyaan-pertanyaan, pengamatan, dan analisis dari berbagai bentuk usaha ilmiah. Newton dan Einstein menggunakan paradigma yang berbeda dalam melakukan studi di bidang fisika.Setiap strategi guru didasari pada paradigma yang berbeda mengenai cara siswa belajar. Lima strategi mengajar dimaksud disajikan berikut ini:
Strategi 1: Pelatihan dan pelatihan lanjut 
Strategi 2: Ceramah dan menjelaskan 
Strategi 3: Mencari dan menemukan 
Strategi 4: Kelompok dan timS
trategi 5: Pengalaman dan refleksi
Kelima strategi diatas menyediakan kerangka kerja konseptual yang berguna untuk mengorganisasi kegiatan pembelajaran.  


Jadi dapat disimpulkan bahwa hubungan antara pedagogi dan paradigma belajar adalah bahwa setiap seni guru dalam mengajar didasari oleh paradigma atau cara pandang mereka sendiri mengenai apa yang mau mereka ajarkan kepada peserta didik. Oleh karena itu, strategi mengajar tumbuh dari paradigma yang berbeda dan tiap guru mempunyai strategi mengajar yang berbeda satu sama lain.

DAFTAR PUSTAKA:
Danim, Sudarwan (2010). Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Seni Dan Ilmu Mengajar



Pada pertemuan kedua mata kuliah Paedagogi yaitu tanggal 5 Maret 2012 , materi yang dipelajari sesuai dengan kontrak kuliah adalah “ Seni dan Ilmu Mengajar “ . Pada hari itu Ibu Filia Dina Anggaraeni sebagai Dosen Pengampu MK Paedagogi meminta kami peserta didik untuk membuka www.editgrid.com . Sejujurnya saya sama sekali belum pernah membuka website tersebut dan saya juga belum pernah mendengar ataupun mendapatkan informasi mengenai manfaat dari website itu. Oleh karena itu, kami cukup tertarik ketika Bu Dina mengajari kami untuk menggunakan website tersebut. Beliau mengajarkan kami bagaimana cara mendaftarkan diri di website tersebut, lalu setelah kami berhasil membuat account di website tersebut, kami pun kembali terus mengikuti instruksi yang diberikan oleh Bu Dina hingga pada akhirnya kami bisa untuk memanfaatkan sendiri website tersebut tanpa dibimbing lagi oleh beliau.

Setelah itu, beliau juga mengajarkan kami untuk memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh website e-learning USU. Pertama-tama beliau meminta kami untuk membuka website tersebut. Instruksi selanjutnya adalah kami harus melakukan registrasi ataupun login dan bergabung dalam konferensi chat yang difasilitasi oleh e-learning USU. Tentu saja pada saat mau memasuki chat room ini banyak dari antara kami yang mengalami kesulitan karena ternyata ada perbedaan cara antara dosen dan mahasiswa untuk bisa masuk ke chat room. Saat itu Bu Dina sudah berhasil masuk ke chat room, tapi satupun dari peserta didik belum ada yang berhasil. Kami hampir patah semangat karena kami sebenarnya juga bingung bagaimana cara masuk ke chat room tersebut. Bu Dina terus membantu kami supaya bisa masuk ke chatroom, akan tetapi hasilnya sama saja. Hingga akhirnya seorang peserta didik yaitu abang senior kami angkatan 2009 berhasil masuk ke chat room dan Bu Dina meminta abang tersebut untuk mengajarkan kami yang tidak bisa ini. Setelah itu semua peserta didik berhasil masuk ke satu chat room yang sama dan saling berdiskusi. Akan tetapi waktu yang kami gunakan untuk berdiskusi tidak terlalu lama karena waktu perkuliahan telah habis.

Banyak yang kami dapatkan dalam perkuliahan pertemuan kedua kemarin yaitu mengenai “Seni dan Ilmu Mengajar”. Salah satunya adalah kami jadi bisa memanfaatkan konferensi chat yang difasilitas oleh e-learning USU yang tentu saja masih ada beberapa mahasiswa yang belum bisa bahkan mungkin tidak tahu mengenai fasilitas yang disediakan oleh e-learning USU ini. Menurut Prof. Dr Sudarwan Danim, mengajar merupakan seni dan ilmu mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan media tertentu. Ilmu mengajar bisa dipelajari di mana pun dan kapan pun, baik individual, kelompok, maupun dilembagakan. Di sini Bu Dina mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik yaitu informasi mengenai EditGrid dan konferensi chat yang difasilitasi oleh e-learning USU serta bagaimana cara menggunakannya.Dalam mengajarkan ini, beliau menunjukkan seni mengajarnya sendiri kepada kami, ia mengajar kami tidak dengan ceramah ataupun diskusi melainkan kami disini harus berpartisipasi dengan aktif agar tidak ketinggalan. Beliau mengajarkan kami untuk mengikuti instruksi yang ia berikan untuk bisa menggunakan website tersebut lalu pada akhirnya nanti beliau membiarkan kami sendiri untuk lebih menggali lagi manfaat dari website tersebut tanpa diinstruksi lagi.Akan tetapi, jika kami mengalami kesulitan yang sudah tidak bisa kami atasi sendiri, beliau akan membantu dan kami bersama-sama berusaha untuk mengatasi kesulitan tersebut. Hubungan seperti ini merupakan hubungan dua arah. Dosen pengampu memberikan dan perserta didik menerima bantuan dan bimbingan. Disini peserta didik tidak tunduk pasif kepada otoritas yang sewenang-wenang dari dosen pengampu. Peserta didik yang baik akan mengambil manfaat yang besar dari peran dosen pengampy, sebagaimana anak-anak diasuh dan dibesarkan dibawah kepengasuhan orangtyanya sebagai sarana mencapai kematangan dan kemandirian.

Banyak yang percaya bahwa kegiatan belajar dapat dilakukan dengan teknologis melalui aplikasi teknologi pembelajaran. Salah satu pendukung utama pendekatan berbasis teknologi adalah B.F.Skinner. Skinner beragumen bahwa guru-guru dapat dilatih untuk menerapkan teknologi pendidikan atau mentransformasikan material pembelajaran dengan pendekatan teknologis dalam logika masukan-proses-luaran atau stimulus-respon yang mekanistik. Hal ini sesuai dengan proses perkuliahan pertemuan kedua kemarin dimana stimulus yaitu instruksi yang diberikan oleh dosen pengampu dan responnya adalah peserta didik mengikuti instruksi yang diberikan oleh dosen pengampu.

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perkuliahan yang dibawa oleh dosen pengampu pada 5 Maret 2012 kemarin membutuhkan partisipasi aktif peserta didik untuk turut ambil bagian dalam proses pembelajaran dimana seperti kita tahu bahwa setiap kali beliau memberikan instruksi kita harus mengikutinya supaya tidak ketinggalan. Dalam proses perkuliahan pertemuan kedua kemarin juga menggunakan media teknologi dimana tiap peserta didik diwajibkan untuk membawa laptop masing-masing. Selain itu peserta didik juga mendapatkan banyak informasi-informasi penting lainnya yang selama ini mereka belum tahu seperti misalnya penggunaan EditGrid dan e-learning USU yang tentu saja nantinya akan berguna untuk ke depannya. Intinya, perkuliahan kemarin cukup menyenangkan dan tidak membosankan. 

DAFTAR PUSTAKA:
Danim, Sudarwan (2010). Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Fenomena Social Network pada Siswa SMA

Rabu, 18 Mei 2011
Nama kelompok:

I PERENCANAAN

1.1.Pendahuluan
Di era globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih, penyebaran informasi serta akses telekomunikasi dan transportasi semakin lebih cepat dan mudah. Tidak dapat dipungkiri hal tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung mempunyai dampak bagi masyarakat.
Internet merupakan salah satu hasil dari kecanggihan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi buatan manusia.Fungsi internet bermacam-macam dan salah satunya adalah sebagai tempat komunitas jejaring sosial (social network) dunia maya. Jejaring sosial merupakan suatu layanan dari sebuah cakupan sistem software internet yang memungkinkan penggunanya dapat berinteraksi dan berbagi data dengan pengguna yang lain dalam skala yang besar.
Situs jejaring sosial di internet bermacam-macam jenis dan bentuknya, namun yang paling dikenal dan banyak digandrungi remaja jaman sekarang adalah facebook, friendster, My Space dan twitter.Selain itu masih ada lagi seperti Yahoo,Multiply,Google Talk,Live Messanger,dll.Tak jarang, satu user memiliki lebih dari satu account. Bahkan jumlah pengguna Facebook di Indonesia memiliki urutan terbanyak kedua di dunia.
Pada kenyataannya tidak hanya di kehidupan umum saja yang terkena dampak dari situs jejaring sosial, namun pengaruhnya mulai dirasakan dalam dunia pendidikan khususnya para pelajar SMA yang harus mempersiapkan diri dengan baik untuk memasuki perguruan tinggi. Dampak terburuk dalam dunia pendidikan yang mungkin dihasilkan dari situs jejaring sosial adalah dapat menganggu proses belajar siswa.
Di Indonesia dapat ditemukan warung internet (warnet) yang bertebaran di sepanjang pinggir jalan.Warung internet ini kebanyakan dikunjungi oleh pelajar SMA sepulang sekolah untuk bermain internet dan mereka biasanya masih memakai seragam sekolah untuk bermain di tempat tersebut.Biasanya yang mereka lakukan adalah membuka situs jejaring sosial ataupun bermain game online.Dan biasanya dengan melakukan aktivitas ini,mereka sampai lupa dengan waktu. Selain itu, banyak juga ditemukan tempat-tempat umum seperti lembaga pendidikan, cafe,mall, dan tempat-tempat rekreasi yang menawarkan jasa hotspot atau wifi untuk masyarakat yang memiliki laptop dan phonebook. Di samping itu, banyak tipe ponsel yang telah dilengkapi dengan aplikasi internet.Hal ini semakin memudahkan para siswa untuk mengakses situs jejaring sosial tersebut dimanapun berada dan kapanpun mau.

Hal inilah yang melatarbelakangi untuk mengambil topik mengenai Peran Teknologi Sebagai Media Belajar pada Siswa SD/SMP/SMA dan mengangkat judul yaitu fenomena social network pada siswa SMA. Tujuannya adalah untuk memahami fenomena social network yang dapat bernilai negatif atau positif yang bisa mempengaruhi proses belajar siswa SMA.

1.2.Landasan teori

Berdasarkan teori social learning menurut Albert Bandura,teori ini adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

Selain itu berdasarkan teori psikososial yang dirintis oleh Erik Erikson pada tahap remaja konflik yang dihadapi adalah  identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas). Pada tahap ini mereka dihadapkan oleh pencarian siapa mereka, bagaimana mereka nanti, dan ke mana mereka akan menuju masa depannya. Satu dimensi yang penting adalah penjajakan pilihan-pilihan alternatif terhadap peran. 

Dari kedua teori diatas bila dihubungkan dengan judul dapat dilihat berdasarkan teori social learning menurut Bandura,perilaku individu yaitu pelajar SMA sangat dipengaruhi oleh lingkungan.Lingkungan yang dimaksud di sini adalah social network karena social network sebagai tempat untuk bersosialisasi dan secara tidak langsung mempengaruhi perilaku seseorang.Pengaruh social network tersebut bisa berdampak positif ataupun negatif yang tergantung dari pemberian reward ataupun punishment.Bila dengan mengakses social network tersebut bisa memberikan keuntungan pada siswa misalnya bisa berinteraksi dengan sesama teman lainnya untuk berbagi ilmu pengetahuan,berbisnis dengan online shoping,dll sehingga mendapatkan reward misalnya menjadi lebih cerdas maka social network itu akan bernilai baik bagi mereka sehingga perilaku yang dimunculkan bernilai positif.Sebaliknya bila social network itu memberikan pengaruh negatif seperti misalnya dengan melalui facebook,seorang siswa menghina gurunya ataupun nilai ujian menjadi turun akibat terlalu sering mengakses social network sehingga mendapatkan punishment maka individu cenderung akan tidak mengulangi perilaku tersebut lagi.

Jika dilihat dari teori psikososial menurut Erikson para pelajar SMA termasuk dalam tahap remaja dimana mereka mengekplorasi dirinya sendiri.Seorang anak dihadapkan dengan penemuan siapa, bagaimana, dan kemana mereka menuju dalam kehidupannya.Inilah yang menjadi salah satu alasan seorang anak suka mengakses social network karena melalui itu mereka bisa menemukan identitas diri mereka sendiri melalui bersosialisasi dengan orang di dunia maya.Terkadang melalui social network ini individu bisa menampilkan peran baru seperti yang mereka inginkan yang mungkin tidak mereka tunjukkan di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itulah peran orangtua sangat besar di tahap ini.

1.3. Alat atau bahan
Alat atau bahan yang digunakan dalam tugas proyek ini adalah laptop,kamera digital,alat tulis,kuesioner dan sejumlah buku panduan yang berhubungan dengan topik yang kami pilih.

1.4. Analisis data
Pengumpulan data diartikan sebagai proses atau kegiatan yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau menjaring berbagai fenomena, informasi atau kondisi lokasi penelitian sesuai dengan lingkup penelitian. Pengumpulan data pada tugas mini proyek  berupa data primer yang artinya data yang didapat oleh peneliti serta metode atau teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dengan menyebarkan  kuesioner (daftar pertanyaan) kepada siswa-siswa SMA. Metode kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Jenis pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan tertutup yaitu responden tinggal memilih jawaban di antara pilihan yang sudah disediakan . Menurut Patton, 1980 (dalam Lexy J. Moleong 2002: 103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Proses analisis data dimulai dengan menelah seluruh data yang telah diperoleh yaitu dari kuesioner yang telah diisi oleh responden. Kemudian data tersebut dibaca, dipelajari,dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengkategorisasikan atau data yang memilih jawaban yang sama dari kuesioner yang telah dijawab oleh responden kemudian menghitung persentasi data .kemudian ditarik kesimpulan.

1.5. Objek atau subjek
Pengumpulan data dengan metode kuesioner dapat diisi oleh seluruh siswa SMA baik siswa kelas X,XI maupun siswa XI. Subjek penelitian adalah fenomena social  network yang mempengaruhi siswa SMA dan objek penelitian adalah siswa SMA yang berada di bimbingan belajar (bimbel) di bimbingan belajar Einstein College dan bimbingan belajar Jahoras.Kuesioner disebarkan pada siswa SMA jahoras dan Einstein sehingga yang menjadi responden adalah siswa siswi di kedua bimbingan tersebut.

1.6. Jadwal pelaksanaan

No
Uraian
April
Mei
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
Membuat tahap perencanaan










2
Menyusun kuesioner










3
Print dan fotocopy kuesioner










4
Membeli pulpen sebagai reward










5
Meminta izin pada bimbingan Einstein dan Jahoras










6
Menyebarkan kuesioner di bimbingan Einstein dan Jahoras










7
Menganalisis hasil kuesioner










8
Membuat kesimpulan dari hasil kuesioner










9
Membuat poster










10
Melaksanakan evaluasi










11
Membuat testimoni dari masing-masing anggota kelompok










12
Posting tugas mini proyek ke blog masing-masing anggota kelompok











1.7. Kalkulasi biaya

Waktu
Kegiatan
Biaya
Selasa,19April 2011
Print kuesioner
Rp 2.000,00
Selasa,19 April 2011
Fotokopi 60 buah kuesioner
Rp 18.000,00
  Selasa,19  April 2011
5 kotak pulpen standart
Rp 45.000,00
   Rabu,20April 2011
Transportasi
Rp 10.000,00
Jumat,22 April 2011
Transportasi
Rp 10.000,00

Biaya lain-lain
Rp 29.000,00

Jumlah
Rp 114.000,00

II PELAKSANAAN

Pada tugas mini proyek ini ada 3 tahapan yang harus dilaksanakan,yaitu tahap perencanaan,tahap pelaksanaan dan tahap laporan serta evaluasi.

Tahap pertama yang dilakukan adalah perencanaan.Pengerjaan tahap ini dilaksanakan pada hari Senin,11 April 2011.Di dalam tahap ini topik yang dipilih adalah peran teknologi sebagai media belajar pada siswa SD/SMP/ SMA.Berdasarkan topik tersebut diangkat judul yaitu fenomena social network pada siswa SMA.Setelah pemilihan judul selesai ,disusunlah bagian pendahuluan,landasan teori,alat dan bahan yang digunakan,analisis data,objek dan subjek yang terlibat,membuat time table,dan menghitung kalkulasi biaya.Pada bagian  yang akan dikerjakan ini dilakukan pembagian tugas pada masing-masing anggota kelompok.
             
            Setelah pada tahap perencanaan selesai maka yang harus dikerjakan adalah tahap pelaksanaan.Sebelum memasuki tahap pelaksanaan,dilakukan penyusunan kuesioner.Penyusunan kuesioner ini dilakukan pada hari Sabtu,16 April 2011.Kuesioner ini digunakan sebagai metode dalam pengumpulan data.Pada kuesioner ini terdiri atas 16 pernyataan yang dimana masing-masing pernyataan berkaitan dengan judul yang telah dibuat sebelumnya.
            
               Pada hari Selasa,19 April 2011 kuesioner yang telah selesai disusun akan diprint serta difotocopy.Kuesioner ini difotocopy sebanyak 60 buah.Selain itu juga dilakukan pembelian 4 buah kotak pulpen sebagai reward yang nantinya akan diberikan pada siswa yang telah mengisi lembar kuesioner yang dibagikan.
            
                Pada hari Rabu,20 April 2011 dilakukan permohonan izin pada bimbingan Einstein College yang terletak di Jalan Jamin Ginting serta Jahoras Sidabutar Private College yang terletak di Komplek Tasbih blok AA.Permohonan izin yang ditujukan pada kedua bimbingan tersebut dikabulkan saat itu juga sehingga berdasarkan perjanjian yang telah dibuat , penyebaran kuesioner akan dilakukan hari Jumat,22 April 2011 pada sore hari.

      Pada hari Jumat,22 April 2011 sekitar pukul 16.00,dilakukan pengumpulan data yaitu melalui penyebaran kuesioner di bimbingan Einstein College.Pada bimbingan pertama ini jumlah kuesioner yang terkumpul adalah 32 buah.Setelah selesai dari bimbingan pertama maka pengumpulan data selanjutnya dilanjutkan ke bimbingan kedua yaitu Jahoras Sidabutar Private College pada pukul 17.30.Jumlah kuesioner yang terkumpul adalah 28 buah.Penyebaran kuesioner ini selesai pada pukul 18.30.Di samping itu,juga dilakukan dokumentasi di kedua bimbingan berupa pengambilan foto menggunakan kamera digital  seperti mengambil gambar saat berlangsungnya proses pengisian kuesioner yang dilakukan oleh siswa SMA.
            
                  Keesokan harinya yaitu Sabtu,23 April 2011 dilakukan analisis data dari hasil yang  telah terkumpul pada penyebaran kuesioner kemarin harinya.Pada proses analisis ini,penghitungan data dilakukan dengan sangat teliti untuk menghindari terjadinya kesalahan.

          Pada hari Senin,25 April 2011 dibuat kesimpulan berdasarkan hasil data yang telah terkumpul dan dianalisis sebelumya.Setelah kesimpulan selesai dibuat,maka isi dari kesimpulan itu diterjemahkan ke dalam bentuk poster.Pembuatan poster ini menggunakan software adobe photoshop.Pembuatan poster ini memakan waktu yang cukup lama karena membutuhkan imajinasi yang cukup tinggi membuat poster yang berkaitan dengan isi kesimpulan.Pengerjaan poster ini selesai pada hari Kamis,7 Mei 2011.

           Pada hari Selasa,10 Mei 2011 dilakukan evaluasi sebagai review dari perencanaan yang telah dirancang sebelumnya dibandingkan dengan pelaksanaan yang telah berlangsung hingga proses evaluasi.Proses evaluasi ini berlangsung selama 2 hari yaitu pada hari Selasa dan Rabu karena ada beberapa bagian yang harus disunting lebih dahulu.Setelah proses evaluasi selesai pada hari Jumat,13 Mei 2011 masing-masing anggota kelompok memberikan testimoni dari tugas mini proyek yang telah dikerjakan.

            Pada akhirnya,hari Rabu 18 Mei 2011 tugas mini proyek yang telah selesai dikerjakan diposting diblog masing-masing dari anggota kelompok.

III Laporan dan Evaluasi

3.1. Laporan

Berdasarkan 60 buah kuesioner yang disebarkan , didapatkan suatu kesimpulan.59 % siswa menyatakan setuju bahwa social network dapat mempengaruhi proses belajar.Siswa yang mengakses social network menggunakan handphone sebanyak 84 % dibandingkan dengan yang menggunakan laptop/komputer.Sebanyak 90 % siswa SMA cenderung menggunakan social network untuk bersosialisasi.80 % siswa SMA mengakses social network setiap hari selama 2-3 jam.


POSTER :




3.2. Evaluasi


Pelaksanaan pembuatan tugas mini proyek sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya.Perencanaan yang dibuat pada minggu ketiga April berjalan cukup baik dimana setiap anggota kelompok mengerjakan tugasnya masing-masing dengan sangat baik dan tepat waktu,tahap perencanaan yang telah dikerjakan masing-masing anggota disatukan serta dilakukan pengoreksian.Penyusunan kuesioner dilakukan pada minggu ketiga bulan April.Pada penyusunan kuesioner mengalami beberapa kali pengulangan karena terjadi kesalahan tetapi dapat selesai dengan tepat waktu,selanjutnya penyebaran kuesioner dilakukan dalam sehari.Penyebaran dapat dilakukan dalam waktu sehari karena kuesioner hanya terdiri dari 60 buah yang disebarkan pada dua bimbingan belajar yaitu Einstein College dan Jahoras.

Pengumpulan data dengan penyebaran kuesioner berjalan dengan lancar.Siswa SMA sebagai responden memberikan respon yang sangat  baik,Para responden tidak mengalami kesulitan dalam mengisi kuesioner dan para responden juga merasa senang karena adanya pemberiaan reward berupa pulpen bermerek standart yang telah disediakan sebelumnya.Penganalisisan data dilakukan keesokan harinya setelah penyebaran kuesioner selesai.Proses penganalisian dilakukan dengan sangat teliti dan membutuhkan waktu beberapa jam untuk menelaah kuesioner yang telah diisi oleh responden.Setelah proses ini selesai dilakukan penarikan kesimpulan dari hasil kuesioner yang telah dihitung.

Pembuatan poster yang berisi kesimpulan dari tugas mini proyek ini merupakan bagian yang tersulit  sehingga membutuhkan waktu yang  lama.Hal ini sudah diduga sebelumnya sehingga disediakan waktu kurang lebih seminggu.Pembuatan poster mengalami beberapa masalah sehingga terjadi beberapa kali pengulangan tetapi karena kerja keras anggota kelompok,poster dapat selesai dengan baik dan memuaskan.Tahap laporan dan evaluasi juga dikerjakan sesuai jadwal yang telah direncanakan sebelumnya dan begitu juga dengan pembuatan testimoni dari masing-masing anggota kelompok.Secara keseluruhan seluruh proses yang berlangsung dalam pengerjaan tugas mini proyek ini sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya sehingga tugas dapat diposting di blog masing-masing anggota dengan tepat waktu.


TESTIMONI INDIVIDU :


DOKUMENTASI :

Bersama kedua siswa bimbingan Einstein College


Memberikan petunjuk dalam mengisi kuesioner



Siswa sedang serius mengisi kuesioner


Mengumpulkan lembar kuesioner yang telah diisi siswa


Siswa bimbingan Jahoras sedang mengisi kuesioner



Foto bersama setelah selesai menyebarkan kuesioner


DAFTAR PUSTAKA:
SANTROCK, JOHN.W. Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua, Jakarta : Kencana ,2010

Minggu, 25 Maret 2012

Paedagogi Praktis pada Zaman Sekarang

Diposting oleh 10081 Eva Violesia Bangun di 20.05 0 komentar
Paedagogi praktis merupakan pengaplikasikan paedagogi ilmiah. Paedagogi praktis disebut juga paedagogi  vernakular. Menurut Carpenter (2001) ada dua fungsi penelitian paedagogis. Pertama, untuk menghasilkan pengetahuan baru tentang pengajaran dan pembelajaran. Kedua, untuk memungkinkan guru atau pendidik memahami, menjelaskan, membela, membenarkan, dan bila perlu memodifikasi paedagogi. Tujuan pertama melahirkan paedagogi teoritis dan tujuan kedua melahirkan paedagogi praktis.


Pada tataran pembelajaran di kelas, tidak ada perbedaan yang jelas antara paedagogi praktis dan paedagogi ilmiah. Meski demikian, praktik paedagogi yang baik harus didasari oleh teori paedagogi yang sudah teruji. Jembatan antara paedagogi ilmiah dan paedagogi praktis juga meningkat melalui penggunaan penelitian ke bidang-bidang seperti metakognisi dan pembelajaran bertahun-tahun.

Paedagogi Praktis Abad Ke-21

Diposting oleh 10081 Eva Violesia Bangun di 06.42 0 komentar
Banyak  orang tertarik untuk mendiskusikan paedagogi, bahkan diberi nama Paedagogi Abad ke-21 yang dikenal juga sebagai paedagogi progresif. Paedagogi tidak hanya berbicara mengenai seni dan ilmu mengajar, melainkan juga mendorong banyak orang untuk melakukan redesain dan pemahaman ulang atas bagaimana menggunakannya untuk merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kemajuan zaman.

Sebagai ilmu atau teori dan seni atau praktik mengajar, paedagogi termasuk dalam kategori “pengetahuan paedagogis formal” dan “pengetahuan paedagogis vernacular”. Paedagogis formal/ilmiah merupakan upaya mengembangkan prinsip-prinsip dan teori-teori paedagogi yang efektif melalui penelitian yang sistematis, lebih abstrak dan lebih umum dari paedagogi vernacular/praktis. Paedagogi formal/praktis didukung oleh pengalaman dasar yang kuat, istimewa, dan dibangun atas fondasi kajian empirik selama proses mengajar dan belajar.

Menurut Carpenter (2001) ada dua fungsi penelitian paedagogis. Pertama, untuk menghasilkan pengetahuan baru tentang pengajaran dan pembelajaran. Kedua, untuk memungkinkan guru atau pendidik memahami, menjelaskan, membela, membenarkan, dan bila perlu memodifikasi paedagogi. Tujuan pertama melahirkan paedagogi teoritis dan tujuan kedua melahirkan paedagogi praktis. Pada tataran pembelajaran di kelas tidak ada perbedaan yang jelas antara paedagogi praktis dan paedagogi ilmiah.

Studi sistematik kepaedagogian erat kaitannya dengan penerapan paedagogi.  Menurut Hallam dan Ireson (1999), yang perlu diprioritaskan menjadi perhatian adalah kebutuhan mendesak untuk bergerak kearah ini yaitu studi sistematis  dan penerapan paedagogi. Ini berarti,  bahwa penelitian paedagogis harus menjadi aturan emas bagi pengambil keputusan. Tindakan  yang akan menurunkan semangat guru-guru harus dilihat dengan hati-hati. Karena itu penelitian paedagogis harus mendefiniskan, menjelaskan, memprediksi, meramalkan, dan menemukan arah ke masa depan bagi perbaikan sistem pendidikan secara keseluruhan.

Tiga Tantangan
Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kerjasama  Ekonomi dan Pembangunan (OECD) terungkap secara eksplisit sejauh mana paedagogi sebagai ilmu pengetauan akan mendukung kebijakan dan praktik pendidikan. Atas dasar laporan itu ada tiga aspek saling terkait untuk memahami dan akhirnya menyelesaikan masalah ini.
1.       1. Codifying and communicating teacher’s practical paedagogical knowledge
Menurut Shulman (1987) masalah utama dalam mengajar adalah hilangnya pemahaman terhadap karya terbaik dari praktisi kontemporer bagi masa depan peserta didik. Dokumentasi standar professional merupakan langkah positif.
2.       2. Establishing systems for shared scientific paedagogical knowledge management
Membangun sistem paedagogis untuk berbagi pengetahuan manajemen ilmiah dan menyediakan waktu yang cukup bagi guru untuk mengembangkan dan menerapkan pengetahuan ini. Krisis yang serius masih muncul di bidang pendidikan.
3.       3. Developing a robust theoretical framework for the new science of paedagogy
Mengembangkan kerangka teori yang kuat terhadap ilmu baru paedagogi. Perdebatan mengenai teori paedagogi terus berlanjut, karena memang karya teoritis yang diperlukan untuk berubah tidak mudah mewujudkannya menjadi prestasi yang solid.
Pengembangan teoritis dan empiris bidang paedagogi memberikan kendali bebas, namun wacana dan kebijakan seringkali memaksakan. Tentu saja harus diyakini bahwa siapa pun juga tidak mungkin melakukan pemisahan paksa antara pengetahuan teoritis dan praktis serta teori kebijakan public dalam pendidikan.

Meski sudah berusia sangat tua, paedagogi terus mengundang perdebatan. Menteri Pendidikan Amerika Serikat telah mempertanyakan pentingnya paedagogi pembelajaran bagi guru. Dia mengemukakan, banyak sekolah pendidikan bisnis terus seperti biasa, dengan fokus berat pada paedagogi dan bagaimana menjadi seorang guru. Implikasi dari pernyataan ini tentu saja mengerikan, karena kurangnya perhatian pada paedagogi. Ada banyak orang yang tidak menerima definisi paedagogi itu merupakan seni dan ilmu menjadi seorang guru.
Konten paedagogi mengacu pada keterampilan paedagogis (pengajaran) yang guru gunakan untuk menanamkan pengetahuan khusus atau isi kurikulum kepada siswa. Kegagalan banyak negara mengenai pengembangan professional sebagian disebabkan karena mengabaikan paedagogi.Pengabaian ini menyebabkan banyak sekolah yang menderita penyakit screensever dan hanya menemukan sedikit keuntungan atas investasi teknologi baru untuk keperluan pengajaran dan pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA:
Danim, Sudarwan (2010). Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Minggu, 18 Maret 2012

Paedagogi Teoritis dan Prinsip-prinsip Paedagogis

Diposting oleh 10081 Eva Violesia Bangun di 09.10 0 komentar
Paedagogi tidak hanya berkutat pada ilmu dan seni mengajar, melainkan pada hubungannya dengan pembentukan generasi baru, yaitu pengaruh pendidikan sebagai sistem yang bermuara pada pengembangan individu atau peserta didik. Danilov (1978) mendefinisikan istilah padagogis sebagai proses interaksi terus menerus dan saling berasimilasi antara pengetahuan ilmiah dan pengembangan siswa. Dari perspektif lain, Alberto Gracia mengkonseptualisasikan paedagogis sebagai tindakan guru dan siswa dalam konteks organisasi sekolah. Ia memperhitungkan hubungan antara semua proses dan pendidikan sebagai target pencapaian sekolah, namun proses paedagogis tidak melampaui batas-batas institusi pendidikan.

Apa yang dimaksud dengan prinsip-prinsip paedagogis? Ini adalah tesis dasar teori psikopaedagogis, pada arah proses paedagogis yang menjadi standard dan prosedur tindakan untuk menentukan dasar paedagogis yang paling penting dalam proses pendidikan kepribadian.

Menurut Addine (2001), diantara prinsip-prinsip paedagogis itu adalah kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis. Setiap konten yang pembelajar ambil di sekolah harus berguna dalam kehidupan sehari-hari, kini dan kelak. Prinsip lain yang berorientasi pada proses ini adalah salah satu yang mengkombinasikan karakter kolektif dan individual pendidikan, serta penghormatan terhadap kepribadian siswa. Prinsip berikutnya merujuk pada kesatuan pengajaran, pendidikan, dan perkembangan proses, karena didasarkan pada kesatuan dialektis antara pendidikan dan pengajaran yang harus terkait dengan kegiatan pembangunan pada umumnya. Proses paedagogis juga menggamit bahwa domain kognitif dan afektif tidak bisa berada dalam suasana yang kering. Prinsip terakhir adalah bahwa masing-masing subsist aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain.

Proses paedagogis berbasis pada model program jangka panjang. Di Kuba, metamorfosis perkembangan lebih lanjut dari paedagogi melahirkan apa yang disebut dengan Revolusi Pendidikan Ketiga.

Sejarah perkembangan padagogi sangat mungkin berbeda di masing-masing negara, meski esensi paedagogi itu sama di semua tempat dan situasi. Menurut N.Chacon dalam rangka pengembangan kemampuan dan keterampilan kepaedagogian juga perlu upaya mengembangkan etika profesi gurum dengan mengemas program yang menggamit beberapa dimensi:
a.Penguasaan susbtansi pengajaran dan pembelajaran
b.Penguasaan dimensi paedagogis
c.Penguasaan program pendidikan berbasis proses dan hasil dalam keseluruhan perilaku dan pekerjaan kependidikan
d.Penguasaan metode proses pengembangan kegiatan belajar-mengajar berdasarkan lintas-kurikuler secara aksiologis dengan menggunakan perangkat teknologi

Menurut Vygotsky, dimensi-dimensi yang tergamit dalam rangka pembentukan guru professional disajikan berikut ini:
1.Pembentukan guru sebagai pribadi yang utuh
2.Pembentukan karakter sistematik yang diperlukan untuk memberdayakan siswa
3.Pembentukan karakter yang terpribadi dengan dua jalur referensi, yaitu individualisasi dan integrasi dengan mempertimbangkan berbagai sisi pengembangan, termasuk yang terkait dengan tujuan edukasi
4.Pembentukan karakter preventif, tidak hanya kaitannya dalam pemecahan masalah



Semua tesis dinyatakan oleh Vygotsky juga mendukung proses belajar mengajar sebagaimana dikehendaki dalam proses paedagogis. Proses belajar mengajar yang terpadu berfokus dalam pembentukan kemampuan, keterampilan, dan kepribadian siswa secara seutuhnya.




DAFTAR PUSTAKA:
Danim, Sudarwan (2010). Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Minggu, 11 Maret 2012

Hubungan Pedagogi dengan Paradigma Belajar

Diposting oleh 10081 Eva Violesia Bangun di 05.33 0 komentar
Istilah pedagogi yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefiniskan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”. Mengajar bermakna tindakan seseorang atau tim dalam memberi petunjuk atau menyampaikan informasi, pengalaman, pengetahuan, dan sejenisnya kepada subjek didik tertentu agar mereka mengetahui dan memahaminya sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Pengajaran adalah semua proses tindakan yang terjadi dalam kerangka kegiatan mengajar. Elemen-elemen umum yang terlibat dalam semua aktivitas mengajar meliputi bahan ajar, interaksi guru-siswa dengan perekat kemampuan pengelolaan kelas, dan evaluasi dengan hasil belajar sebagai produknya. Seorang guru yang sangat baik dipandang sebagai salah satu energi yang memberikan kontribusi positif yang luar biasa terhadap terciptanya suasana belajar siswa, termasuk membangkitkan minat mereka. Guru dengan kemampuan mengajar yang unggul memiliki karakteristik sebagai berikut:


 1     Keahlian pokok, diantaranya:
 v     Memiliki pengetahuan tentang materi pelajaran secara menyeluruh 
 v     Menguasai materi lebih jauh dari sekadar yang tertuang dalam buku teks 
 v     Meneliti dan mengembangkan pikiran-pikiran penting dan asli mengenai materi pelajaran khusus 


 2     Ahli pedagogis, diantaranya: 
 v     Mengevaluasi dan menilai siswa secara adil dan cepat
 v     Memberikan umpan balik secara teratur, konstruktif, dan obyektif untuk siswa
 v     Mempromosikan penemuan siswa  


3        Komunikator yang unggul, diantaranya: 
 v     Menunjukkan kemampuan berkomunikasi lisan dan tulisan yang efektif
 v     Membantu siswa belajar menggunakan keterampilan berkomunikasi yang efektif 
 v     Menggunakan bahasa sebagai jembatan budaya 


 4        Mentor yang berpusat pada siswa, diantaranya: 
 v     Membuat siswa dengan mudah memahami kepribadiannya
 v     Menjadikan dan membuat kegiatan belajar siswa sebagai prioritas tertinggi 
 v     Menyediakan waktu secara ikhlas untuk mempengaruhi motivasi belajar siswa 


 5        Asesor yang sistematis dan berkelanjutan, diantaranya: 
 v     Mengakui keterbatasan dan kekurangan sendiri 
 v     Mendukung upaya pengujian untuk mengetahui keberhasilan kegiatan pembelajaran
 v     Mengembangkan dan menggunakan hasil penilaian untuk terus meningkatkan       pengalaman belajar siswa sesuai dengan tujuan program  


Guru tidak hanya harus mampu melihat apa yang terjadi di kelas melainkan juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan tentang apa yang dilihat. Guru yang memiliki perspektif adalah  mereka yang berpengalaman dalam pengaturan sekolah dan memiliki struktur konseptual untuk memahami peristiwa di kelas.  


Istilah paradigma dikemukakan secara akademik dan operasional oleh Thomas Kihn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution. Kuhn menggunakan istilah paradigma untuk menggambarkan seseorang yang mengakui keyakinan dan teori yang mendasari kegiatan “ilmu-ilmu normal”. Dengan demikian paradigma adalah cara yang diterima untuk melihat dunia yang tumbuh dari pertanyaan-pertanyaan, pengamatan, dan analisis dari berbagai bentuk usaha ilmiah. Newton dan Einstein menggunakan paradigma yang berbeda dalam melakukan studi di bidang fisika.Setiap strategi guru didasari pada paradigma yang berbeda mengenai cara siswa belajar. Lima strategi mengajar dimaksud disajikan berikut ini:
Strategi 1: Pelatihan dan pelatihan lanjut 
Strategi 2: Ceramah dan menjelaskan 
Strategi 3: Mencari dan menemukan 
Strategi 4: Kelompok dan timS
trategi 5: Pengalaman dan refleksi
Kelima strategi diatas menyediakan kerangka kerja konseptual yang berguna untuk mengorganisasi kegiatan pembelajaran.  


Jadi dapat disimpulkan bahwa hubungan antara pedagogi dan paradigma belajar adalah bahwa setiap seni guru dalam mengajar didasari oleh paradigma atau cara pandang mereka sendiri mengenai apa yang mau mereka ajarkan kepada peserta didik. Oleh karena itu, strategi mengajar tumbuh dari paradigma yang berbeda dan tiap guru mempunyai strategi mengajar yang berbeda satu sama lain.

DAFTAR PUSTAKA:
Danim, Sudarwan (2010). Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Seni Dan Ilmu Mengajar

Diposting oleh 10081 Eva Violesia Bangun di 05.24 0 komentar


Pada pertemuan kedua mata kuliah Paedagogi yaitu tanggal 5 Maret 2012 , materi yang dipelajari sesuai dengan kontrak kuliah adalah “ Seni dan Ilmu Mengajar “ . Pada hari itu Ibu Filia Dina Anggaraeni sebagai Dosen Pengampu MK Paedagogi meminta kami peserta didik untuk membuka www.editgrid.com . Sejujurnya saya sama sekali belum pernah membuka website tersebut dan saya juga belum pernah mendengar ataupun mendapatkan informasi mengenai manfaat dari website itu. Oleh karena itu, kami cukup tertarik ketika Bu Dina mengajari kami untuk menggunakan website tersebut. Beliau mengajarkan kami bagaimana cara mendaftarkan diri di website tersebut, lalu setelah kami berhasil membuat account di website tersebut, kami pun kembali terus mengikuti instruksi yang diberikan oleh Bu Dina hingga pada akhirnya kami bisa untuk memanfaatkan sendiri website tersebut tanpa dibimbing lagi oleh beliau.

Setelah itu, beliau juga mengajarkan kami untuk memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh website e-learning USU. Pertama-tama beliau meminta kami untuk membuka website tersebut. Instruksi selanjutnya adalah kami harus melakukan registrasi ataupun login dan bergabung dalam konferensi chat yang difasilitasi oleh e-learning USU. Tentu saja pada saat mau memasuki chat room ini banyak dari antara kami yang mengalami kesulitan karena ternyata ada perbedaan cara antara dosen dan mahasiswa untuk bisa masuk ke chat room. Saat itu Bu Dina sudah berhasil masuk ke chat room, tapi satupun dari peserta didik belum ada yang berhasil. Kami hampir patah semangat karena kami sebenarnya juga bingung bagaimana cara masuk ke chat room tersebut. Bu Dina terus membantu kami supaya bisa masuk ke chatroom, akan tetapi hasilnya sama saja. Hingga akhirnya seorang peserta didik yaitu abang senior kami angkatan 2009 berhasil masuk ke chat room dan Bu Dina meminta abang tersebut untuk mengajarkan kami yang tidak bisa ini. Setelah itu semua peserta didik berhasil masuk ke satu chat room yang sama dan saling berdiskusi. Akan tetapi waktu yang kami gunakan untuk berdiskusi tidak terlalu lama karena waktu perkuliahan telah habis.

Banyak yang kami dapatkan dalam perkuliahan pertemuan kedua kemarin yaitu mengenai “Seni dan Ilmu Mengajar”. Salah satunya adalah kami jadi bisa memanfaatkan konferensi chat yang difasilitas oleh e-learning USU yang tentu saja masih ada beberapa mahasiswa yang belum bisa bahkan mungkin tidak tahu mengenai fasilitas yang disediakan oleh e-learning USU ini. Menurut Prof. Dr Sudarwan Danim, mengajar merupakan seni dan ilmu mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan media tertentu. Ilmu mengajar bisa dipelajari di mana pun dan kapan pun, baik individual, kelompok, maupun dilembagakan. Di sini Bu Dina mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik yaitu informasi mengenai EditGrid dan konferensi chat yang difasilitasi oleh e-learning USU serta bagaimana cara menggunakannya.Dalam mengajarkan ini, beliau menunjukkan seni mengajarnya sendiri kepada kami, ia mengajar kami tidak dengan ceramah ataupun diskusi melainkan kami disini harus berpartisipasi dengan aktif agar tidak ketinggalan. Beliau mengajarkan kami untuk mengikuti instruksi yang ia berikan untuk bisa menggunakan website tersebut lalu pada akhirnya nanti beliau membiarkan kami sendiri untuk lebih menggali lagi manfaat dari website tersebut tanpa diinstruksi lagi.Akan tetapi, jika kami mengalami kesulitan yang sudah tidak bisa kami atasi sendiri, beliau akan membantu dan kami bersama-sama berusaha untuk mengatasi kesulitan tersebut. Hubungan seperti ini merupakan hubungan dua arah. Dosen pengampu memberikan dan perserta didik menerima bantuan dan bimbingan. Disini peserta didik tidak tunduk pasif kepada otoritas yang sewenang-wenang dari dosen pengampu. Peserta didik yang baik akan mengambil manfaat yang besar dari peran dosen pengampy, sebagaimana anak-anak diasuh dan dibesarkan dibawah kepengasuhan orangtyanya sebagai sarana mencapai kematangan dan kemandirian.

Banyak yang percaya bahwa kegiatan belajar dapat dilakukan dengan teknologis melalui aplikasi teknologi pembelajaran. Salah satu pendukung utama pendekatan berbasis teknologi adalah B.F.Skinner. Skinner beragumen bahwa guru-guru dapat dilatih untuk menerapkan teknologi pendidikan atau mentransformasikan material pembelajaran dengan pendekatan teknologis dalam logika masukan-proses-luaran atau stimulus-respon yang mekanistik. Hal ini sesuai dengan proses perkuliahan pertemuan kedua kemarin dimana stimulus yaitu instruksi yang diberikan oleh dosen pengampu dan responnya adalah peserta didik mengikuti instruksi yang diberikan oleh dosen pengampu.

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perkuliahan yang dibawa oleh dosen pengampu pada 5 Maret 2012 kemarin membutuhkan partisipasi aktif peserta didik untuk turut ambil bagian dalam proses pembelajaran dimana seperti kita tahu bahwa setiap kali beliau memberikan instruksi kita harus mengikutinya supaya tidak ketinggalan. Dalam proses perkuliahan pertemuan kedua kemarin juga menggunakan media teknologi dimana tiap peserta didik diwajibkan untuk membawa laptop masing-masing. Selain itu peserta didik juga mendapatkan banyak informasi-informasi penting lainnya yang selama ini mereka belum tahu seperti misalnya penggunaan EditGrid dan e-learning USU yang tentu saja nantinya akan berguna untuk ke depannya. Intinya, perkuliahan kemarin cukup menyenangkan dan tidak membosankan. 

DAFTAR PUSTAKA:
Danim, Sudarwan (2010). Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Rabu, 18 Mei 2011

Fenomena Social Network pada Siswa SMA

Diposting oleh 10081 Eva Violesia Bangun di 01.47 0 komentar
Nama kelompok:

I PERENCANAAN

1.1.Pendahuluan
Di era globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih, penyebaran informasi serta akses telekomunikasi dan transportasi semakin lebih cepat dan mudah. Tidak dapat dipungkiri hal tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung mempunyai dampak bagi masyarakat.
Internet merupakan salah satu hasil dari kecanggihan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi buatan manusia.Fungsi internet bermacam-macam dan salah satunya adalah sebagai tempat komunitas jejaring sosial (social network) dunia maya. Jejaring sosial merupakan suatu layanan dari sebuah cakupan sistem software internet yang memungkinkan penggunanya dapat berinteraksi dan berbagi data dengan pengguna yang lain dalam skala yang besar.
Situs jejaring sosial di internet bermacam-macam jenis dan bentuknya, namun yang paling dikenal dan banyak digandrungi remaja jaman sekarang adalah facebook, friendster, My Space dan twitter.Selain itu masih ada lagi seperti Yahoo,Multiply,Google Talk,Live Messanger,dll.Tak jarang, satu user memiliki lebih dari satu account. Bahkan jumlah pengguna Facebook di Indonesia memiliki urutan terbanyak kedua di dunia.
Pada kenyataannya tidak hanya di kehidupan umum saja yang terkena dampak dari situs jejaring sosial, namun pengaruhnya mulai dirasakan dalam dunia pendidikan khususnya para pelajar SMA yang harus mempersiapkan diri dengan baik untuk memasuki perguruan tinggi. Dampak terburuk dalam dunia pendidikan yang mungkin dihasilkan dari situs jejaring sosial adalah dapat menganggu proses belajar siswa.
Di Indonesia dapat ditemukan warung internet (warnet) yang bertebaran di sepanjang pinggir jalan.Warung internet ini kebanyakan dikunjungi oleh pelajar SMA sepulang sekolah untuk bermain internet dan mereka biasanya masih memakai seragam sekolah untuk bermain di tempat tersebut.Biasanya yang mereka lakukan adalah membuka situs jejaring sosial ataupun bermain game online.Dan biasanya dengan melakukan aktivitas ini,mereka sampai lupa dengan waktu. Selain itu, banyak juga ditemukan tempat-tempat umum seperti lembaga pendidikan, cafe,mall, dan tempat-tempat rekreasi yang menawarkan jasa hotspot atau wifi untuk masyarakat yang memiliki laptop dan phonebook. Di samping itu, banyak tipe ponsel yang telah dilengkapi dengan aplikasi internet.Hal ini semakin memudahkan para siswa untuk mengakses situs jejaring sosial tersebut dimanapun berada dan kapanpun mau.

Hal inilah yang melatarbelakangi untuk mengambil topik mengenai Peran Teknologi Sebagai Media Belajar pada Siswa SD/SMP/SMA dan mengangkat judul yaitu fenomena social network pada siswa SMA. Tujuannya adalah untuk memahami fenomena social network yang dapat bernilai negatif atau positif yang bisa mempengaruhi proses belajar siswa SMA.

1.2.Landasan teori

Berdasarkan teori social learning menurut Albert Bandura,teori ini adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

Selain itu berdasarkan teori psikososial yang dirintis oleh Erik Erikson pada tahap remaja konflik yang dihadapi adalah  identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas). Pada tahap ini mereka dihadapkan oleh pencarian siapa mereka, bagaimana mereka nanti, dan ke mana mereka akan menuju masa depannya. Satu dimensi yang penting adalah penjajakan pilihan-pilihan alternatif terhadap peran. 

Dari kedua teori diatas bila dihubungkan dengan judul dapat dilihat berdasarkan teori social learning menurut Bandura,perilaku individu yaitu pelajar SMA sangat dipengaruhi oleh lingkungan.Lingkungan yang dimaksud di sini adalah social network karena social network sebagai tempat untuk bersosialisasi dan secara tidak langsung mempengaruhi perilaku seseorang.Pengaruh social network tersebut bisa berdampak positif ataupun negatif yang tergantung dari pemberian reward ataupun punishment.Bila dengan mengakses social network tersebut bisa memberikan keuntungan pada siswa misalnya bisa berinteraksi dengan sesama teman lainnya untuk berbagi ilmu pengetahuan,berbisnis dengan online shoping,dll sehingga mendapatkan reward misalnya menjadi lebih cerdas maka social network itu akan bernilai baik bagi mereka sehingga perilaku yang dimunculkan bernilai positif.Sebaliknya bila social network itu memberikan pengaruh negatif seperti misalnya dengan melalui facebook,seorang siswa menghina gurunya ataupun nilai ujian menjadi turun akibat terlalu sering mengakses social network sehingga mendapatkan punishment maka individu cenderung akan tidak mengulangi perilaku tersebut lagi.

Jika dilihat dari teori psikososial menurut Erikson para pelajar SMA termasuk dalam tahap remaja dimana mereka mengekplorasi dirinya sendiri.Seorang anak dihadapkan dengan penemuan siapa, bagaimana, dan kemana mereka menuju dalam kehidupannya.Inilah yang menjadi salah satu alasan seorang anak suka mengakses social network karena melalui itu mereka bisa menemukan identitas diri mereka sendiri melalui bersosialisasi dengan orang di dunia maya.Terkadang melalui social network ini individu bisa menampilkan peran baru seperti yang mereka inginkan yang mungkin tidak mereka tunjukkan di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itulah peran orangtua sangat besar di tahap ini.

1.3. Alat atau bahan
Alat atau bahan yang digunakan dalam tugas proyek ini adalah laptop,kamera digital,alat tulis,kuesioner dan sejumlah buku panduan yang berhubungan dengan topik yang kami pilih.

1.4. Analisis data
Pengumpulan data diartikan sebagai proses atau kegiatan yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau menjaring berbagai fenomena, informasi atau kondisi lokasi penelitian sesuai dengan lingkup penelitian. Pengumpulan data pada tugas mini proyek  berupa data primer yang artinya data yang didapat oleh peneliti serta metode atau teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dengan menyebarkan  kuesioner (daftar pertanyaan) kepada siswa-siswa SMA. Metode kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Jenis pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan tertutup yaitu responden tinggal memilih jawaban di antara pilihan yang sudah disediakan . Menurut Patton, 1980 (dalam Lexy J. Moleong 2002: 103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Proses analisis data dimulai dengan menelah seluruh data yang telah diperoleh yaitu dari kuesioner yang telah diisi oleh responden. Kemudian data tersebut dibaca, dipelajari,dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengkategorisasikan atau data yang memilih jawaban yang sama dari kuesioner yang telah dijawab oleh responden kemudian menghitung persentasi data .kemudian ditarik kesimpulan.

1.5. Objek atau subjek
Pengumpulan data dengan metode kuesioner dapat diisi oleh seluruh siswa SMA baik siswa kelas X,XI maupun siswa XI. Subjek penelitian adalah fenomena social  network yang mempengaruhi siswa SMA dan objek penelitian adalah siswa SMA yang berada di bimbingan belajar (bimbel) di bimbingan belajar Einstein College dan bimbingan belajar Jahoras.Kuesioner disebarkan pada siswa SMA jahoras dan Einstein sehingga yang menjadi responden adalah siswa siswi di kedua bimbingan tersebut.

1.6. Jadwal pelaksanaan

No
Uraian
April
Mei
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
Membuat tahap perencanaan










2
Menyusun kuesioner










3
Print dan fotocopy kuesioner










4
Membeli pulpen sebagai reward










5
Meminta izin pada bimbingan Einstein dan Jahoras










6
Menyebarkan kuesioner di bimbingan Einstein dan Jahoras










7
Menganalisis hasil kuesioner










8
Membuat kesimpulan dari hasil kuesioner










9
Membuat poster










10
Melaksanakan evaluasi










11
Membuat testimoni dari masing-masing anggota kelompok










12
Posting tugas mini proyek ke blog masing-masing anggota kelompok











1.7. Kalkulasi biaya

Waktu
Kegiatan
Biaya
Selasa,19April 2011
Print kuesioner
Rp 2.000,00
Selasa,19 April 2011
Fotokopi 60 buah kuesioner
Rp 18.000,00
  Selasa,19  April 2011
5 kotak pulpen standart
Rp 45.000,00
   Rabu,20April 2011
Transportasi
Rp 10.000,00
Jumat,22 April 2011
Transportasi
Rp 10.000,00

Biaya lain-lain
Rp 29.000,00

Jumlah
Rp 114.000,00

II PELAKSANAAN

Pada tugas mini proyek ini ada 3 tahapan yang harus dilaksanakan,yaitu tahap perencanaan,tahap pelaksanaan dan tahap laporan serta evaluasi.

Tahap pertama yang dilakukan adalah perencanaan.Pengerjaan tahap ini dilaksanakan pada hari Senin,11 April 2011.Di dalam tahap ini topik yang dipilih adalah peran teknologi sebagai media belajar pada siswa SD/SMP/ SMA.Berdasarkan topik tersebut diangkat judul yaitu fenomena social network pada siswa SMA.Setelah pemilihan judul selesai ,disusunlah bagian pendahuluan,landasan teori,alat dan bahan yang digunakan,analisis data,objek dan subjek yang terlibat,membuat time table,dan menghitung kalkulasi biaya.Pada bagian  yang akan dikerjakan ini dilakukan pembagian tugas pada masing-masing anggota kelompok.
             
            Setelah pada tahap perencanaan selesai maka yang harus dikerjakan adalah tahap pelaksanaan.Sebelum memasuki tahap pelaksanaan,dilakukan penyusunan kuesioner.Penyusunan kuesioner ini dilakukan pada hari Sabtu,16 April 2011.Kuesioner ini digunakan sebagai metode dalam pengumpulan data.Pada kuesioner ini terdiri atas 16 pernyataan yang dimana masing-masing pernyataan berkaitan dengan judul yang telah dibuat sebelumnya.
            
               Pada hari Selasa,19 April 2011 kuesioner yang telah selesai disusun akan diprint serta difotocopy.Kuesioner ini difotocopy sebanyak 60 buah.Selain itu juga dilakukan pembelian 4 buah kotak pulpen sebagai reward yang nantinya akan diberikan pada siswa yang telah mengisi lembar kuesioner yang dibagikan.
            
                Pada hari Rabu,20 April 2011 dilakukan permohonan izin pada bimbingan Einstein College yang terletak di Jalan Jamin Ginting serta Jahoras Sidabutar Private College yang terletak di Komplek Tasbih blok AA.Permohonan izin yang ditujukan pada kedua bimbingan tersebut dikabulkan saat itu juga sehingga berdasarkan perjanjian yang telah dibuat , penyebaran kuesioner akan dilakukan hari Jumat,22 April 2011 pada sore hari.

      Pada hari Jumat,22 April 2011 sekitar pukul 16.00,dilakukan pengumpulan data yaitu melalui penyebaran kuesioner di bimbingan Einstein College.Pada bimbingan pertama ini jumlah kuesioner yang terkumpul adalah 32 buah.Setelah selesai dari bimbingan pertama maka pengumpulan data selanjutnya dilanjutkan ke bimbingan kedua yaitu Jahoras Sidabutar Private College pada pukul 17.30.Jumlah kuesioner yang terkumpul adalah 28 buah.Penyebaran kuesioner ini selesai pada pukul 18.30.Di samping itu,juga dilakukan dokumentasi di kedua bimbingan berupa pengambilan foto menggunakan kamera digital  seperti mengambil gambar saat berlangsungnya proses pengisian kuesioner yang dilakukan oleh siswa SMA.
            
                  Keesokan harinya yaitu Sabtu,23 April 2011 dilakukan analisis data dari hasil yang  telah terkumpul pada penyebaran kuesioner kemarin harinya.Pada proses analisis ini,penghitungan data dilakukan dengan sangat teliti untuk menghindari terjadinya kesalahan.

          Pada hari Senin,25 April 2011 dibuat kesimpulan berdasarkan hasil data yang telah terkumpul dan dianalisis sebelumya.Setelah kesimpulan selesai dibuat,maka isi dari kesimpulan itu diterjemahkan ke dalam bentuk poster.Pembuatan poster ini menggunakan software adobe photoshop.Pembuatan poster ini memakan waktu yang cukup lama karena membutuhkan imajinasi yang cukup tinggi membuat poster yang berkaitan dengan isi kesimpulan.Pengerjaan poster ini selesai pada hari Kamis,7 Mei 2011.

           Pada hari Selasa,10 Mei 2011 dilakukan evaluasi sebagai review dari perencanaan yang telah dirancang sebelumnya dibandingkan dengan pelaksanaan yang telah berlangsung hingga proses evaluasi.Proses evaluasi ini berlangsung selama 2 hari yaitu pada hari Selasa dan Rabu karena ada beberapa bagian yang harus disunting lebih dahulu.Setelah proses evaluasi selesai pada hari Jumat,13 Mei 2011 masing-masing anggota kelompok memberikan testimoni dari tugas mini proyek yang telah dikerjakan.

            Pada akhirnya,hari Rabu 18 Mei 2011 tugas mini proyek yang telah selesai dikerjakan diposting diblog masing-masing dari anggota kelompok.

III Laporan dan Evaluasi

3.1. Laporan

Berdasarkan 60 buah kuesioner yang disebarkan , didapatkan suatu kesimpulan.59 % siswa menyatakan setuju bahwa social network dapat mempengaruhi proses belajar.Siswa yang mengakses social network menggunakan handphone sebanyak 84 % dibandingkan dengan yang menggunakan laptop/komputer.Sebanyak 90 % siswa SMA cenderung menggunakan social network untuk bersosialisasi.80 % siswa SMA mengakses social network setiap hari selama 2-3 jam.


POSTER :




3.2. Evaluasi


Pelaksanaan pembuatan tugas mini proyek sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya.Perencanaan yang dibuat pada minggu ketiga April berjalan cukup baik dimana setiap anggota kelompok mengerjakan tugasnya masing-masing dengan sangat baik dan tepat waktu,tahap perencanaan yang telah dikerjakan masing-masing anggota disatukan serta dilakukan pengoreksian.Penyusunan kuesioner dilakukan pada minggu ketiga bulan April.Pada penyusunan kuesioner mengalami beberapa kali pengulangan karena terjadi kesalahan tetapi dapat selesai dengan tepat waktu,selanjutnya penyebaran kuesioner dilakukan dalam sehari.Penyebaran dapat dilakukan dalam waktu sehari karena kuesioner hanya terdiri dari 60 buah yang disebarkan pada dua bimbingan belajar yaitu Einstein College dan Jahoras.

Pengumpulan data dengan penyebaran kuesioner berjalan dengan lancar.Siswa SMA sebagai responden memberikan respon yang sangat  baik,Para responden tidak mengalami kesulitan dalam mengisi kuesioner dan para responden juga merasa senang karena adanya pemberiaan reward berupa pulpen bermerek standart yang telah disediakan sebelumnya.Penganalisisan data dilakukan keesokan harinya setelah penyebaran kuesioner selesai.Proses penganalisian dilakukan dengan sangat teliti dan membutuhkan waktu beberapa jam untuk menelaah kuesioner yang telah diisi oleh responden.Setelah proses ini selesai dilakukan penarikan kesimpulan dari hasil kuesioner yang telah dihitung.

Pembuatan poster yang berisi kesimpulan dari tugas mini proyek ini merupakan bagian yang tersulit  sehingga membutuhkan waktu yang  lama.Hal ini sudah diduga sebelumnya sehingga disediakan waktu kurang lebih seminggu.Pembuatan poster mengalami beberapa masalah sehingga terjadi beberapa kali pengulangan tetapi karena kerja keras anggota kelompok,poster dapat selesai dengan baik dan memuaskan.Tahap laporan dan evaluasi juga dikerjakan sesuai jadwal yang telah direncanakan sebelumnya dan begitu juga dengan pembuatan testimoni dari masing-masing anggota kelompok.Secara keseluruhan seluruh proses yang berlangsung dalam pengerjaan tugas mini proyek ini sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya sehingga tugas dapat diposting di blog masing-masing anggota dengan tepat waktu.


TESTIMONI INDIVIDU :


DOKUMENTASI :

Bersama kedua siswa bimbingan Einstein College


Memberikan petunjuk dalam mengisi kuesioner



Siswa sedang serius mengisi kuesioner


Mengumpulkan lembar kuesioner yang telah diisi siswa


Siswa bimbingan Jahoras sedang mengisi kuesioner



Foto bersama setelah selesai menyebarkan kuesioner


DAFTAR PUSTAKA:
SANTROCK, JOHN.W. Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua, Jakarta : Kencana ,2010